Pemerintah AS Berdampak Kecil ke Indonesia

Penutupan (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS) diprediksi tak banyak berdampak kepada Indonesia. Pasalnya shutdown pemerintahan AS bukan yang pertama terjadi, dan hanya bersifat sementara.

Direktur Riset Center Of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebutkan pemerintahan Barack Obama maupun Donald Trump sudah pernah mengalami shutdown. Menurut dia, hal ini hanya permasalahan domestik khususnya di administrasi pemerintahan AS saja.

“Biasanya hanya temporer. Tidak akan lebih dari tiga bulan. Akan selalu ada kesepakatan setelahnya,” kata Piter kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 24 Desember 2018.

Dikarenakan sifatnya sebagai masalah domestik, dirinya menambahkan, shutdown pemerintahan AS tidak banyak berpengaruh terhadap persoalan global. Begitu pula bagi Indonesia, yang menurut Piter, perekonomiannya lebih banyak berhubungan dengan Tiongkok.

“Dengan pertimbangan itu dampaknya akan minimal ke global terutama ke Indonesia. Amerika Serikat (AS) bukan pasar utamanya Indonesia. Ekonomi Indonesia lebih terhubung ke Tiongkok,” jelas dia.

Sementara di pasar keuangan, dampak penutupan pemerintahan AS juga akan sedikit. Apalagi pergerakan di pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh fundamental, teknikal serta sentimen yang ada.

“Saya memproyeksikan pasar cukup menyadari shutdown ini akan bersifat temporer dan tidak akan merespons secara signifikan,” pungkasnya.

Shutdown pemerintahan AS disebabkan karena Partai Demokrat menolak Trump yang meminta dana USD5 miliar sekitar Rp72,7 triliun untuk pembangunan tembok di perbatasan AS dan Meksiko yang menurut Trump dapat mencegah masuknya imigran ilegal serta obat-obatan berbahaya.